KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Cerpen 2008

Pecinta cerpen dan puisi Indonesia yang budiman,

Setelah menyaring karya-karya yang masuk, tim redaksi berhasil mengumpulkan sekitar 60 karya cerpen unggulan. Tidaklah mudah menentukan 3 pemenang untuk posisi juara 1, 2 dan 3 dari 60 karya yang benar-benar bermutu. Idealnya kami ingin mengangkat ke-60 karya-karya pilihan tersebut menjadi juara yang mana tidaklah mungkin.

Akhirnya kami memutuskan untuk menambah 10 tempat bagi juara harapan dengan hadiah masing-masing sebesar seratus ribu rupiah. Kami tahu bahwa hadiah ini sangatlah kecil dan tidak sebanding dengan besarnya karya-karya tulisan yang terpilih, akan tetapi kami berharap ini akan menjadi insentif kecil agar budaya membaca dan menulis di Indonesia dapat berkembang terus.

Hasil lengkap pemenang lomba cerpen 2008 di Kolomkita adalah sebagai berikut:

Juara pertama dengan hadiah sebesar satu juta rupiah (Rp.1.000.000,-) jatuh pada karya:

Perempuan Kampung Karampuang karya Emil Akbar

Juara kedua dengan hadiah sebesar lima ratus ribu rupiah (Rp.500.000,-) jatuh pada karya:

Aku Malang, Ibuku Jalang, Bapakku Jahanam Bukan Kepalang karya Rien Al-Anshari

Juara ketiga dengan hadiah sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah (Rp.250.000,-) jatuh pada karya:

Di Dalam Toilet, di Atas Kloset karya Arki Atsema

Sepuluh juara harapan dengan hadian masing-masing sebesar seratus ribu rupiah (Rp.100.000,-), diurut berdasarkan abjad:

Para pemenang harap menghubungi redaksi melalui email redaksi [at] kolomkita [titik] com (Anda harus menggunakan alamat email yang terdaftar di kolomkita sebagai bukti bahwa Anda adalah penulis yang sah).

Hadiah akan dikirim melalui Bank Central Asia ke rekening bank pemenang, untuk itu harap sertakan nama pada rekening bank, nomor rekening bank, kota dan cabang bank Anda. Jangan lupa sertakan judul karya Anda yang berhasil menjadi pemenang.

Di akhir kata kami ucapkan kepada semua anggota untuk terus berkarya.

Terima kasih
Redaksi KolomKita



Dukung situs KolomKita!

Jika Anda senang dengan keberadaan situs ini dan merasakan manfaatnya, Anda dapat turut berpartisipasi dalam mengembangkan situs KolomKita dengan beberapa cara, diantaranya:

  1. Selalu menggunakan mesin pencari Google yang disediakan di situs ini (lihat di atas).
  2. Mengunjungi iklan-iklan sponsor yang menarik minat Anda.
  3. Menginstall Alexa Toolbar pada komputer Anda.

Baca keterangan selengkapnya di sini.



Layangan Putus

Mana orang itu? Katanya akan datang ke pameran perdana museum layang-layang, kenapa sampai sekarang belum menyusul? batinku gelisah.

Aku melancarkan pandangan mengelilingi ruangan, kudapati seorang anak kecil berlari mendekati sebuah layangan putih sederhana yang dipajang di sudut. Aku menghampiri anak itu berniat menyapanya sebelum ia  bergerak gesit; ia menyentuh layang-layang putih itu dan menariknya hingga putus.

Surat Untukmu

Dalam sepi kucoba renungi
Makna segala perkataanmu
Kucoba ‘tuk ambil hikmahnya
Kucoba tersenyum pada nasib

Kau ingkari hatimu
Demi ‘tuk raih sebuah harapan
Dalam kecewa kukagumi dirimu
Bulan pun sembunyi malam ini

Pengorbanan seorang perawan
Yang dulu pernah bersinar
Biarkan mereka menyerang
Biarkan mereka hancurkan

For Now

I’m standing here
Alone in the dark
No one can hear me
For now

I’m a black rainbow
Flying into the night
No one can see me
For now

I’m a lost soul
Crawling into the mist
No one can love me
For now

Cinta

“Sis, lo mau gak jadi cewek gua?”

Demi Sebuah Mimpi

Berlari-lari mengejar mentari

Kala hujan menunggu pelangi

Sepertinya lelah enggan menyentuh

Tubuh kecil yang penuh semangat

Riak ombak bergulung dari kejauhan

Ketika aku menatap di sini

Pandanganku jauh menerawang

Esok,

Ah, aku masih tidak tahu tentang esok

Di Manakah Cinta?

Di manakah cinta?
Apabila cinta bermain akrobat di belakangku…
Bila cinta bersembunyi di balik selimut palsu
Bila wajahnya pun bersembunyi di balik topeng
Sehingga belaian hanyalah sebuah bayangan semu

Di manakah cinta?
Bila bibir seperti sayat belati…
Bila mata seperti api menjalar..
Bila langkah menjadi terseret-seret
Sehingga terhempas debu dan angin kencang

setiap kali melihat pohon sagu
membayang sosok penghuni
pulau Sagu

pada batangnya yang besar dan kasar
kukenang sosok yang kekar dan tegar
menantang badai yang datang silih berganti

pada riuh-rendah daunnya diterpa angin
kudengar suara orang memanggil
bila kususuri jalan yang salah
lalu diam bersama angin yang mereda
bersama langkah kaki menapak di jalan yang benar

Jujur Saja

aku ditampar terkapar semua pudar
yang berakar menjadi besar bayangan tergambar
kebencian takkan usai di sini
tangan terkepal pecahkan kaca sepenggal
menjadi buyar
menjadi pudar
itukah terbaik yang kau bisa
itukah kata hatimu
jujur saja..
jujur saja padaku..
terdengar di sana
hatimu berkata tidak
begitu ingin kau membelai
setulus hati sepenuh cinta..

Dengar Pendapat

Wajah keruh Anggun menandakan betapa teruknya keadaan yang ada dalam pikirannya, otak, dan mungkin emosinya. Anggun, mungkin hanya namanya saja, dalam kesehariannya tak satu pun yang terlihat anggun di mata rekan, tetangga juga keluarganya.

Itulah Aku

Pagiku sirna terhempas di atas bebatuan tajam
Siang yang menjelang tak mampu membuat hangat tubuhku yang kedinginan di dalam peraduan.
Banyak pesan ku kirimkan untukmu, wahai Rajaku seorang.

Itulah Aku
Bukan untuk menghindari etika itu.

Itulah perasanku…
Karena suara hati tak pernah menipu

Itulah isi hatiku…
Karena bicara kadang membuat lidah kelu.

Next »